WILL A BLADE BECAME MY ONLY FRIEND?

by - November 28, 2019

"It's okay to be not okay!"

sumber : pinterest (rebloggy.com)


Kalimat itu selalu menjadi sebuah nasehat buat orang yang mengalami gangguan kesehatan mental, seperti depresi. Menerima keadaan diri bahwa diri kita sedang berada dalam masalah yang mengakuinya, contohnya diri kita menyadari bahwa kita mengalami depresi karena suatu hal seperti putus pacar, pemutusan hubungan kerja, kegagalan, dan lain sebagainya.

Depresi. Suatu gangguan mental yang menjadi "ngetren" beberapa tahun belakangan ini karena menyerang kaum milenial. Stress karena tuntutan, hubungan yang 'toksik', perundungan, membandingkan diri sendiri dengan orang lain menjadi beberapa faktor penyebab angka kejadian depresi kian meningkat di kalangan milenial. Bagi kalian yang sering membaca blog saya sejak lama, saya termasuk orang yang mengalami depresi sejak SMA, sampai sekarang saya masih berada dalam pengawasan obat dari psikiatri saya. Namun, sampai sekarang juga saya mengalami hal-hal yang menjadi 'tanda-tanda' depresi seperti mengurung diri, sering menangis tanpa sebab, murung, merasa sedih, merasa tak berguna, dan salah satunya juga memiliki keinginan untuk bunuh diri.

Kuulangi lagi, sampai sekarang saya masih sempat memiliki keinginan untuk bunuh diri, ingin menghilang tanpa jejak, ingin melenyapkan semua isi dari memori-memori tubuh ini. Bisa dibilang saya korban perundungan karena saya gemuk dan ke-perempuan-an sejak kecil, walaupun saat SD dan SMP saya tergolong siswa yang (ada) prestasinya seperti pernah mengikuti lomba dan juara 1 tingkat kabupaten, juara 3 penampil terbaik keyboard di salah satu lembaga bimbingan musik, hingga pernah menduduki juara 3 di kelas, bagi saya itu tak berpengaruh dengan lingkungan pertemanan saya, tetap aja mengalami perundungan akibat sifat saya yang "nggak biasa". Perundungan itu nggak hanya dilakukan oleh teman sebaya (seangkatan) saya, tapi juga kakak kelas bahkan adik kelas. Sejak SMA itulah saya merasa nggak berguna, nggak penting, banyak teman yang membenci saya karena sifat-sifat aneh saya, seolah-olah semua emosi yang terpendam akibat perundungan atau hal-hal menyakitkan lain sejak SD, telah mencapai batas kesabaranku dan meledak bagaikan bom molotov yang meledak, membunuh seluruh perasaan. Sejak saat itu, saya jadi senang menonton film bergenre horor-psikopat, hal itu bukannya menakutkan, justru rasanya seperti ingin 'balas dendam' kepada orang yang pernah mem-bully saya hingga sakit hati, lebih baik kubalas dengan nyawa. Pada saat itu, saya juga suka membahas tentang kematian, darah, orang bunuh diri, pisau, senjata tajam, dan sebagainya. Rasa amarah yang terpendam juga selaras dengan perasaan saya yang saat itu senang sekali melihat hal-hal horor dan ekstrim.

Bila tak bisa bunuh diri, kadang saya suka berdoa agar saya cepat mati karena jujur saya sudah nggak kuat menjalani hidupku yang penuh stressor. Bahkan, lebih baik saya sudah mati ketika saya menjalani operasi usus buntu sampai mengalami masa kritis, cerita orang tua saya. Menurutku, kenapa saya tidak di-euthanasia saja? Kan keluarga senang karena nggak perlu repot-repot mengurus dua anak, maksudnya bebannya bisa berkurang, sedangkan teman-teman saya bisa happy karena aku nggak ada karena saya mengerti banyak sekali yang tidak menginginkan kehadiran saya di muka bumi ini. Jujur saja deh!

Sampai sekarang saya masih mendapatkan "judgemental" dari beberapa orang (terutama cowok)  bahwa cowok depresi atau cowok cengeng adalah cowok banci dan cowok lemah. Saya tidak masalah dengan sebutan banci di hidup saya. Tapi, yang mebuat saya bertambah depresi adalah ketika saya dibilang cowok lemah karena cowok kuat adalah cowok yang tidak menangis sama sekali, harus tegar. IT'S NOT OKAY TO BE NOT OKAY, mungkin begitu maksudnya. Selama ini saya selalu berusaha untuk menyembunyikan tangis dengan tawa dan ceria. Bila kalian menyebut diri saya sebagai orang yang ramah, ceria, menyenangkan, percayalah, senyuman dan kebahagiaan yang aku tampilkan adalah kepalsuan belaka.

Saya pernah melukis tanda silang di pergelangan kiri saya sebagai bentuk percobaan bunuh diri. Ya, saya pernah mencoba melakukan bunuh diri sekitar 4 tahun lalu karena saat itu saya berada di titik saya tak mampu lagi untuk bertahan dalam kesedihan, bersembunyi dalam keceriaan, memendam semua amarah yang berkecamuk dan selalu berusaha dipendam agar tak meledak dan merugikan orang lain? Ah, lebih baik kurugikan diriku sendiri, bukan? Pertanyaan yang terlintas di benakku adalah, APAKAH SAYA HARUS MEMBUAT LUKA YANG LEBIH DALAM LAGI SAMPAI TETES DARAH TERAKHIR?

Saya berharap ini bukan postingan blog terakhir saya. Namun, apabila saya terpaksa mengakhiri blog ini, saya minta maaf atas segala perbuatan dan kesalahan saya. Doakan saya agar saya bisa kembali lagi di blog ini dengan keadaan yang jauh lebih tenang dan lebih positive vibes lagi



"So, will my blade become my only friend? WILL SEE"

You May Also Like

1 komentar